Diskusi Keuangan Google Search
 



Archive for April 7, 2008

[PROFEC] [InspirasiIndonesia] Gaji Papa Berapa?

Kisah yang inspiratif………. kadang-kadang kita tidak memperhatikan kebahagiaan anak….padahal selaku orang tua kita sering terasa menangis dalam hati pada saat kita ingin merasakan kasih sayang anak….tapi anak tersebut ternyata menghindari kita…..
Pada tanggal 06/04/08, Made Sariada menulis: > > > Artikel yang sangat menarik dan menggugah.. > > Semoga bermanfaat.. > > Salam bahagia, > > Made Sariada > www.madesariada.com > > —– Original Message —– *From:* Anna > *To:* InspirasiIndonesia@yahoogroups.com > *Sent:* Sunday, April 06, 2008 10:49 AM > *Subject:* [InspirasiIndonesia] Gaji Papa Berapa? > > > > *Gaji Papa Berapa?* > ** > Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di > sebuah perusahaan swasta terkemuka > di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, > Sarah, putra pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu > untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama. > “Kok, belum tidur ?” sapa Andrew sambil mencium anaknya. > Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika > ia akan berangkat ke kantor pagi hari. > Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, “Aku > nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?” > “Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?” > “Ah, enggak. Pengen tahu aja” ucap Sarah singkat. > “Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam > dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. > Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa > dalam satu bulan berapa, hayo ?” > Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara > Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Andrew beranjak > menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya. “Kalo > satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa > digaji Rp. > 40.000,- dong” katanya. > “Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur” perintah Andrew > Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian, > Sarah kembali bertanya, “Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak > ?” > “Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam > begini ? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah”. > “Tapi Papa…” > Kesabaran Andrew pun habis. “Papa bilang tidur !” hardiknya > mengejutkan > Sarah. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. > Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di > kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang > terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya. > Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata, > “Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang > malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp. > 5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih” jawab Andrew > “Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau > sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini”. > “lya, iya, tapi buat apa ?” tanya Andrew lembut. > “Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga > puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. > Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp. > 15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka > setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp. > 5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa” kata Sarah polos. > Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu > erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan > harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk “membeli” > kebahagiaan > anaknya. > > > Sumber: dari milis tetangga. > > > —————————— > You rock. That’s why Blockbuster’s offering you one month of Blockbuster > Total Access, > No Cost. > > >

Comments

[PROFEC] Berita Duka

Dear Vera,
Tutur berduka cita, semoga mamamu tenang di alam sana, dan keluarga yg ditinggalkan mendapat ketabahan, amin.
Wass.& Bgds.,
Herman Jambak Cooperative of Garuda Indonesia Group Employees (KOKARGA)
GarudaIndonesia Building7th Fl. Jl. Gunung Sahari Raya 52, Jakarta 10610 Indonesia Ph. (62-21) 4262058-4262060 Fax. (62-21) 4262061 +62811961908, +62818981259 E-mail: info@kokarga.com http://www.kokarga.com Secretary of Board of Eldership Member Federasi Awak Kabin Udara Indonesia (FAKUI) & Indo-Beatlemania Club (IBC)
From: Anung Wakhid [mailto:anung.wakhid@ yahoo.com] Sent: Friday, April 04, 2008 1:50 PM To: TheProfec@yahoogrou ps.com Subject: [PROFEC] Berita Duka
Informasi dari Bu Lies Sudianti (Owner Profec),
Setelah selesai sholat jum’at hari ini, saya mendapatkan sms dari bu Lies untuk menginformasikan berita duka kepada member milis profec semuanya.
============ ========= ========= ======
Telah meninggal dunia mama dari VERA (member profec), Rumah Duka Jelambar Ruang 1 dan 2.
Hari Jumat jam 12:30 = Misa tutup peti, jam 19:30 = Rosario Hari Sabtu jam 19:00 = Misa Requiem Hari Minggu jam 8:30 = Jenazah berangkat ke dadap.
Semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
============ ========= ========= ========
Salam, Anung Wakhid 085292794284
____________________________________________________________________________________ You rock. That’s why Blockbuster’s offering you one month of Blockbuster Total Access, No Cost. http://tc.deals.yahoo.com/tc/blockbuster/text5.com

Comments

(opini) Pencegahan Korupsi dengan Menaikan Gaji Aparat, Mungkin Kah?

Pencegahan Korupsi da
Membaca informasi di media belakangan ini tentang kenaikan gaji dari aparatur negara untuk mencegah korupsi yang terjadi, saya hanya bisa tersenyum. pertanyaan dalam hati benarkah dengan meningkatkan gaji atau tunjangan dari pejabat bisa meredam atau mencegah korupsi?
Dari pengaamatan saya beberapa tahun belakangan ini tingkat korupsi di indonesia semakin meningkat, malah ada yang melibatkan anggota DPR. orang awam bisa menerka berapa gaji yang diterima anggota DPR, pasti angka yang cukup menabjupkan yang bila di kategorikan adalah penghasilan yang cukup tinggi. tapi apa… ternyata tingkat korupsi di DPR adalah yang terparah, malah melibatkan BI segala. jadi benarkah teori mencegah korupsi dengan cara meningkatkan gaji aparatur negara..?
Ditengah gaji yang diperoleh oleh aparatur negara, dan birokrasi bagai mana kinerja meraka, sudah jadi rahasia umum birokrasi bekerja tidak efisien, ketika saya mengurus di keluran, dibanding saya mengurus sesuai prosedur, dibanding dengan memberi “uang tips” proses pengerjaan malah akan lebih cepat jika kita mengasih uang tips. itu baru tingkat kelurahan, coba kita tengok tingkat depeartment, saya pernah bersama bagaian legal dari perusahaan saya mencoba mengurus pendaftaran kartu garansi untuk suatu produk baru, bagian legal menyerahkan “amplop” untuk orang departmetn perdagangan. dengan alasan mempercepat perijinan.
Mengapa setiap pemberantasan korupsi ditingakat aparat selalu dikaitkan dengan gaji yang minim, kenapa…?, coba pikir kalau alasan gaji minim menjadi alasan mengapa mereka mau masuk PNS yang memang mereka ketahui dengan gaji yang standar. kalau mau gaji besar kenapa meraka tidak bekerja atau berusaha saja. malah kita bisa saksikan berapa juta warga indonesia yang berlomba jadi PNS.
kalangan aparat adalah orang yang beruntung, bila terjadi korupsi selalu mengatakan gaji yang kecil, bagaimana dengan rakyat yang pada umumnya yang berpenghasilan UMR, dengan pendapatn minimal, apakah mereka bisa menuntut kenaikan gaji sesuai dengan aparat. samakan status yang dimiliki. coba bandingkan kerja seorang buruh dengan seorang pejabat. seorang buruh harus bekerja dengan keringat dan tenaga yang maksimal untuk mendapat gaji minimal (UMR), sedang pejabat hanya bekerja minimal menuntut gaji yang maksimal. jadi wajarkah?
Kenapa kalau buruh selalu dikaikan dengan daya saing negara, ketika buruh meminta kenaikan UMR, sungguh berat, dan selalu dikaitkan dengan daya saing negera, dan selalu posisi buruh dalam kondisi lemah. Sedangkan ketika aparat meminta kenaikan adalah wajar. dimana keadilan di negeri ini.
Apakah aparat wajar mempunyai gaji yang besar, dan Buruh wajar mendapat gaji UMR?, padahal untuk kebutuhan hidup saja UMR tidak mencukupi, seharusnya yang wajar mendapat kenaikan gaji adalah buruh yang notabene lebih dari separuh dari jumlah penduduk di Indonesia, dibanding segelintir aparat yang rakus dan tamak dengan penghasilan.
Yang harus dibenahi adalah penegakan hukum yang selama ini hanya menghukum kaum yang bergaji UMR dibanding dengan Aparat, kenapa karena aaprat mempunyai kekuasaan, dan Uang untuk membayar penegak hukum. Contoh kasus di depan mata adalah Jaksa Urip. dan beralasan gaji urip yang sebesar Rp 3.5 tidak sesuai dengan tugas yang diberikan. kalau gitu kenapa mau pak jadi jaksa, cari kerja lain aja.
Waduh Rp 3.5 dibilang tidak sesuai, seperti yang kita ketahui, gaji memang sebesar itu, tapi penghasilannya berapa ya, kan ada berbagai macam tunjangan, atau amplop kanan kiri. jadi penghasilannya berapa ya. Gaji tidak sama dengan penghasilan bukan. Tidak percaya, coba deh liahat kehidupan aparat, dan PNS, yang memiliki rumah dan Kendaraan serta fasilitas hidup yang wah, yang terkadang tidak masuk akal dengan gaji yang dimiliki oleh aparat atau PNs. tapi kita tidak boleh buruk sangka kan, barang kali mereka berbisnis, atau malah dapat warisan dari orang tuanya.
Bandingkan dengan kaum UMR, untuk beli rumah selonjor pun sulit (RSS) saja tidak mampu, apakah terdapat keadilan dengan kaum UMR. Jadi wajarkah Jika mereka korupsi dengan alasan gaji yang kurang. silahkan jawab sendiri. hanya berharap keadilan bisa ditegakan di bumi indonesia. para pejabat coba pikirkan kaum UMR ini, jangan memikirkan diri sendiri lah(EA)

Comments

Do You Speak English?

Bahasa Inggris adalah bahasa terpenting di dunia. Hampir semua buku bisnis kelas dunia ditulis dalam bahasa Inggris.
Beberapa diantaranya; E-Myth Revisited (Gerber), Instant Cashflow (Mark G. Nolan), Instant – series (Brad Sugar), Guerilla Marketing - series (Levinson), dan Scientific Advertising (Hopkins).
Buku-buku tersebut sangat berbobot dan praktis. Mereka dapat menjadi mentor yang baik bagi pemula bisnis. Sayangnya, buku-buku itu belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Selain buku cetak, banyak beredar Audio dan Video dari pakar dunia; seperti Anthony Robbins, Brian Tracy, Robert Kiyosaki, Ken Blanchard, Brad Sugar dan sebagainya. Semuanya dalam bahasa Inggris.
Dengan menguasai bahasa Inggris, kita memiliki akses ke berbagai pundi ilmu pengetahuan dunia.
Tetapi banyak diantara kita tidak enggan belajar. Alasan klasiknya? Tidak ada waktu !
So, Ingin maju?
Kuasailah bahasa Inggris! Kuasailah pengetahuannya! Raihlah dunia!
See You At The Top,
Johny Rusly www.1000hari.blogspot.com www.andatidaksendiri.com
Ps-1: Di dunia maya bertebaran begitu banyak artikel, tips & ebook dan sebagainya. Semuanya GRATIS! Syaratnya, ya bahasa Inggris itu!
Ps-2: Bahasa Inggris saya juga belepotan! Awalnya kurang PD! Dipaksakan baca, akhirnya bisa juga!

____________________________________________________________________________________ You rock. That’s why Blockbuster’s offering you one month of Blockbuster Total Access, No Cost. http://tc.deals.yahoo.com/tc/blockbuster/text5.com

Comments

” Tidak Ada Jalan Buntu, Hanya Jalan Alternatif “

Saya menerima beberapa e-mail dari para pembaca artikel-artikel saya di Pembelajar.com. Ada yang bertanya apa kunci sukses yang utama. Ada pula yang bertanya bagaimana cara menghilangkan kejenuhan kerja. Yang lain bertanya pula bagaimana bisa mencapai sesuatu yang diidam-idamkan. Jawaban saya: tidak ada jalan pintas, tidak ada quick fix. Semuanya perlu usaha. Namun suatu usaha bisa terasa berat, bisa terasa ringan.

Kuncinya sekali lagi adalah mindset. Apa sih, “mindset” itu? OK, kalau Simon Cowell si juri “super jujur dan sarkastis” dari American Idol bilang, “raise the bar.” Ini artinya tinggikan standarmu. Setiap orang punya “bar” alias “mindset” alias “standar” yang mendasari semua perilaku kehidupannya. Kalau ada yang merasa “iba” dan “kasihan” dengan dirinya sendiri yang tidak punya ayah, misalnya, sehingga menjustifikasi perbuatan-perbuatannya yang mencederai diri sendiri. Maka, sebaliknya, sebagai seseorang yang tidak pernah mengenal ayah saya sendiri sejak bayi, saya tidak pernah merasakan demikian. Ini karena “my bar” sangat berbeda dengan si Iba tersebut.
Malah saya sangat memperhatikan apa yang saya punya, yaitu Ibunda yang sangat memperhatikan semua kebutuhan lahir dan batin saya, kedua grandparents saya dan sahabat-sahabat keluarga yang sangat tulus. Seringkali saya bandingkan kualitas hidup saya sejak kecil dengan teman-teman yang punya orang tua lengkap, tidak jarang saya merasa lebih beruntung. Tidak pernah sekalipun dalam hidup saya, saya merasa kekurangan dan masa kecil saya bisa dibilang sangat berbahagia. “Bar” saya ini ternyata cukup unik. Tanpa saya sadari, sejak kecil saya merasa beruntung dengan apa yang kasat mata, bukan apa yang tidak kelihatan dan diangan-angan. Mindset ini, ternyata, sangat berguna di masa dewasa, terutama dalam hidup di dalam sukses (bukan “mencapai” sukses).
Salah satu tokoh yang saya kagumi, Nelson Mandela pernah berkata: “Our deepest fear is not that we are inadequate. Our deepest fear is that we are powerful beyond measure. It is our light, not our darkness that most frightens us. We ask ourselves, `Who am I to be brilliant, gorgeous, talented, and fabulous?’ Actually, who are you not to be? You are a child of God. Your playing small does not serve the world. There is nothing enlightened about shrinking so that other people won’t feel insecure around you. We were born to manifest the glory that is within us. And as we let our light shine we unconsciously give other people permission to do the same. As we are liberated from our own fear, our presence automatically liberates others.”
Jadi, intinya adalah “bar” alias “mindset” sukses bersumber dari penghargaan dan rasa hormat yang dalam akan kehidupan dan anugerah Yang Kuasa kepada kita. Dengan ini, tidak ada lagi jalan buntu, karena keberadaan kita sendiri adalah suatu anugerah yang luar biasa. Dengan menghargai pemberian ini, kita semakin kagum akan diri kita sendiri, akan potensi-potensi yang kita miliki, dan akan segala berkat yang kita terima sejak hari pertama kita dilahirkan di dunia ini. Kadang-kadang secara kultural, orang-orang yang bangga akan diri sendiri sangatlah tidak bisa diterima, karena kesannya angkuh dan tidak sopan.
Well, saya tidak menyarankan Anda untuk mengumbar-ngumbar prestasi Anda di mana pun dan kapan pun berada. Namun, saya sedang mengajak Anda untuk melihat ke dalam diri sendiri dan menemukan suatu cahaya anugerah yang luar biasa.
Nelson Mandela, di dalam sel penjara bernomor 46664, menemukan cahaya ini. Cahaya ini adalah “bar” alias “mindset” sukses. Dalam beberapa aliran spiritual, ini disebut sebagai enlightenment.
Carilah itu di dalam diri Anda. Tidak perlu susah-susah merefleksi diri dengan cara-cara yang spektakuler, seperti meditasi di atas gunung. Caranya sangat simpel: sadarilah “cahaya” Anda. Cahaya ini merupakan pancaran jiwa yang konfiden. Pancaran jiwa yang bahagia akan apa yang ia miliki, bukan apa yang tidak ia miliki. Bahagia akan segala potensi yang ada, walaupun sekarang belum menghasilkan apa-apa.

Admit that you’re gorgeous. Act that you’re wise. Be that you’re better from yesterday. ~ Penulis Jennie S. Bev
Have a positive day!
Salam Inspirasi, Mohamad Yunus HR & Training Manager PT Widatra Bhakti Moderator I2 www.inspirasiindonesia.com

Baca juga artikel motivasi lainnya hanya di :

http://www.beraniegagal.com

Salam Sukses,
M. Rian Rahardi

# BeraniBisnis.Com
# KeuanganPribadi.Com
P Please consider the environment before printing this email

This email and any attachments are confidential and may also be privileged. If you are not the addressee, do not disclose, copy, circulate or in any other way use or rely on the information contained in this email or any attachments. If received in error, notify the sender immediately and delete this email and any attachments from your system. Emails cannot be guaranteed to be secure or error free as the message and any attachments could be intercepted, corrupted, lost, delayed, incomplete or amended. Standard Chartered PLC and its subsidiaries do not accept liability for damage caused by this email or any attachments and may monitor email traffic.

Standard Chartered PLC is incorporated in England with limited liability under company number 966425 and has its registered office at 1 Aldermanbury Square, London, EC2V 7SB.

Standard Chartered Bank (”SCB”) is incorporated in England with limited liability by Royal Charter 1853, under reference ZC18. The Principal Office of SCB is situated in England at 1 Aldermanbury Square, London EC2V 7SB. In the United Kingdom, SCB is authorised and regulated by the Financial Services Authority under FSA register number 114276.

If you are receiving this email from SCB outside the UK, please click http://www.standardchartered.com/global/email_disclaimer.html to refer to the information on other jurisdictions.

Comments

VACANCY FOR INTERNATIONAL PLAYER

Dear All, A Representative office from Singapore Company need urgent Sales Executive to join our dynamic team with following requirements: * Male / female * Max. age 30 years old * D3/S1 (majoring in engineering) * Experience in related field min. 2 years old send your CV and application to: nuryawanto@consultant.com not later than 12 April 2008 Nuryawanto www.boenvirotech.com
CPM Consulting Training - Consultant - Event Organizer Jl. Raya Pasar Minggu Km. 17/11B Jakarta Selatan 12740 Tlp. 021-3121208 / 021-99716951 Fax. 021-7989606

Comments

Belajar Dari Sang Penyair - ABUNDANT (BERLIMPAH)

“Seandainya Alam mendengarkan apa yang dikatakan mengenai kepuasan diri, maka tidak ada sungai yang mengalir sampai ke laut, tidak ada musim dingin berubah menjadi musim semi. Seandainya ia mendengarkan semua yang kita katakan mengenai hemat, berapa banyak dari kita yang bisa bernafas dari udara ini?” ~Kahlil Gibran~
Makna dari petikan syair diatas yang bisa kita pelajari : Merupakan penggambaran bahwa Alam Semesta bersifat BERLIMPAH (ABUNDANT). Bahwa Alam Semesta menyediakan segala sesuatu yang kita inginkan tanpa batas. Ya, segala sesuatu… apapun yang kita inginkan, baik hal yang positif maupun yang negatif. Alam Semesta tidak mengenal kata BATAS, hanya diri kita lah yang membatasi, hanya pikiran kita lah yang membatasi segala hal yang kita bisa dan kita inginkan dalam kehidupan kita. Fokus terhadap apa yang kita inginkan (positif) dan bukan pada apa yang tidak kita inginkan (negatif) maka Semesta akan selalu siap menyediakan apa yang kita inginkan tersebut dan menjadikannya kenyataan dalam kehidupan. Pikirkan, Ucapkan dan Lakukan Apa yang Anda inginkan & FOCUS ONLY TO WHAT YOU WANT! Bagaimana Menurut Anda? Tetap SEMANGAT & SUKSES!
EdySantoso
Trainer & Motivator -
http://www.eaglesspirit.com ,
Mobile : 0818 73 83 27

Comments

Kepemimpinan Yang Ideal….!!!!!

Bicara masalah kepemimpinan kita semua adalah seorang pemimpin tentunya dalam kapasitas dan batas koridor tertentu. Sebagai misal Laki-laki yang sudah beranjak dewasa dan telah berumah tangga mereka semua adalah pemimpin bagi istri dan anak-anak mereka, tentunya dengan harapan mereka dapat dicontoh dan menjadi suri tauladan bagi anak-anak dan istrinya, Lantas kriteria apa saja yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang pemimpin tentunya mereka harus bisa bersikap bijak dan adil dengan segala keputusannya terhadap pengikutnya maupun anak buahnya supaya mereka yang dipimpin merasa aman, nyaman, tenteram, adil dan sejahtera. Itulah yang didam-idamkan sebagai pengikutnya, sehingga mereka saling memberikan kontribusi serta komunikasi yang positif demi terciptanya keadilan dan kesejahteraan. Demikian pula halnya dengan seorang pengusaha ataupun pelaku usaha lain Mereka juga dituntut untuk bisa berbuat seadil-adilnya terhadap karyawan atau anak buahnya, sehingga keputusan yang diambil tidak menimbulkan kontroversial serta kecemburuan sosial yang bisa memicu dan berdampak perpecahan bagi karyawan maupun anak buahnya. Tidak jarang-jarang belakangan ini banyak karyawan berdemo untuk menuntut hak-hak mereka, karena selama ini mereka merasa diperlakukan tidak adil dan kurang manusiawi atas hak-hak mereka, nasibnya ditentukan oleh pucuk pimpinan yang bisa dipertanggungjawabkan ke seluruh karyawan dan pegawainya. Kalau sebagai seorang pemimpin belum mampu menciptakan nuansa keadilan dan kesejahteraan tentunya mereka belum bisa dikatakan dan tidak layak jadi seorang pemimpin ( Leader ) Semoga tulisan diatas bisa menjadi motivasi calon-calon pemimpin negeri dan bangsa yang kita cintai ini, amin. Mohon masukan kritik maupun saran Salam
Kiran.

Comments

Berita Duka (turut b’duka utk Vera)

Vera….turut berduka cita ya bwt mamamu…smoga arwahnya diterima disisi Tuhan YME. kiranya keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan & ketabahan… -sandra- “J.Thenu” wrote: Dear Vera, Aku turut berduka cita atas meninggalnya mama mu. Kiranya Tuhan mengampuni semua kesalahan2 yang telah diperbuat beliau selama hidup didunia ini dan aku percaya bahwa mama mu sekarang mendapatkan tempat yang amat indah dirumah Tuhan. Aku juga mendoakan agar kamu dan keluarga lain yang ditinggalkan bisa kuat dan menerima kepergian mama mu dengan hati yang lapang. Salam dari, Joyce H. Thenu

Comments

====================================== THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER [ Seri : “Membangun Ekonomi Rakyat Indonesia” ] ======================================= [Ec_Q] BANK KAUM MISKIN Oleh : Muhammad Yunus Peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2006 Bersama Alan Jolis Belajar dari : Kisah Muhammad Yunus dan Grameen Bank, dalam Memerangi Kemiskinan 15. Kesetiaan Saya Pada Bangladesh [2] Saya tidak ingin demonstrasi esok terlihat jelek, karenanya saya terus mencoba menemukan siapa yang mengetuai kegiatan esok di Capitol Hill. Apa saja yang telah dipersiapkan? Apakah ada yang telah menyiapkan poster-poster untuk diusung di hadapan kamera TV? Tak seorang pun di rumah Enayet Karim sepertinya tahu. Saya pikir saya harus mengambil inisiatif. Saya pergi ke toko swalayan membeli setumpuk kertas berwarna, cat, dan kuas. Saya segera bekerja membuat hiasan-hiasan, keterampilan yang saya peroleh saat menjadi mahasiswa di Chittagong College. Shamsul Bari tiba. Dia pengajar bahasa Bangla di University of Chicago. Saya telah mengenalnya dari jauh saat menjadi mahasiswa di Dhaka. Perang Kemerdekaan menjadikan kami dekat. Kami bekerja bersama sepanjang masa perang itu. Semakin senja, semakin banyak orang berkumpul di rumah Enayet Karim. Beberapa mencemaskan keluarga mereka di Bangladesh. Lainnya menginginkan lebih banyak informasi mengenai situasi di Dhaka dan apa yang perlu dilakukan. Malam itu digunakan untuk menganalisa situasi dan memutuskan strategi untuk esok hari. Pertama, kami menyampaikan seruan ke seluruh kedutaan dan kepala pemerintahan. Kedua, mengorganisir demonstrasi di Capitol Hill. Nyonya Karim melayani kami layaknya sahabat dekatnya, menyuguhi kami dengan panganan dalam piring hangat, sambil terkadang mengumpati tentara Pakistan dan menyitir puisi-puisi Tagore. Esok paginya, 29 Maret, bentakan suara membangunkan saya. Saya segera berbaju dan lari ke ruang depan. Ada seseorang bertubuh kurus, pendek, dan berjanggut sedang menguliahi Karim dengan suara keras. Ruang kecil itu dipenuhi oleh lima atau enam Orang. Orang kurus kecil itu berperilaku sangat kasar. Dia terus menuding Karim dan pejabat kedutaan lainnya sebagai pengkhianat. Orang-orang lainnya di ruangan itu memakai lencana bertuliskan ?BANGLADESH? dengan huruf tebal. Para tamu ini berkendaraan dari Harvard dari lembaga-lembaga lainnya di Boston untuk bergabung dalam demonstrasi di Capitol Hill. Mereka sangat geram ketika tahu bahwa pejabat kedutaan asal Bengali memutuskan tidak ikut serta dalam demo. Orang kurus kecil itu tak segan menggunakan kata-kata kasar saat menuding Karim. Dia adalah Dr. Mohiuddin Alamgir yang baru saja memperoleh gelar Ph.D dan Harvard University dan kemudian menjadi sahabat dekat saya. Saya mencoba membela tuan rumah dengan menjelaskan bahwa pejabat-pejabat kedutaan memiliki kontak dengan para petinggi di Departemen Luar Negeri AS, sehingga bisa memberi penjelasan mengenai situasi sebenarnya pada mereka. Adalah strategi yang baik untuk mempertahankan posisi tinggi kita di pemerintahan AS. Dengan begitu, Pakistan tidak akan seenaknya menggunakan kekuasaan pemerintahannya untuk menindas orang-orang Bengali di Pakistan Timur. Alamgir tidak setuju. Itu hanya ?omongan manis? para pengecut yang tidak mau bergabung dengan perjuangan kemerdekaan, yang cuma mau melindungi kemapanan hidupnya. Pertemuan itu berakhir buntu. Akhirnya, baru tanggal 4 Agustus, diplomat-diplomat asal Bengali di Kedutaan Pakistan menyeberang dan bergabung dengan pemerintah eksil Bangladesh. Siang itu, kami semua berkumpul dan berdemo di tangga gedung Kongres AS. Orang-orang Bengali berdatangan dan tempat tempat jauh. Kontingen terbesar datang dari Washington, New York, dan Detroit. Saya sungguh terkejut menyaksikan begitu banyak pekerja pabrik di Detroit yang berasal dari distrik Sylhet di Bangladesh. Tak seorang pun mengetahui pasti apa yang harus dikerjakan atau kemana arah demo. Kami tidak bisa mulai karena belum punya izin resmi berdemo. Saat masih kebingungan bagaimana kami mengorganisir diri, Shamsul Bari muncul dengan izin yang dibutuhkan. Saya berteriak sekencangnya: ?Ini dia pemimpin kita. Mari kita berbaris di belakangnya dan mulai demonstrasi!? Semua berlangsung seperti sihir. Demo di tangga Capitol Hill adalah peristiwa besar. Kami mendapat perhatian dan legislator AS. Staf anggota Kongres meminta waktu untuk meminta keterangan seputar situasi yang berkembang dan tuntutan kami. Pemberitaan media sangat aktif. Kamera televisi meliput demo itu dan melakukan wawancara langsung di lokasi. Sorenya, kami semua berkumpul di rumah A.M.A. Muhith, pejabat konsul ekonomi kedutaan. Perdebatan hangat berlangsung mengenai koordinasi aktivitas orang-orang Bengali di AS dan pengalihan secepatnya kesetiaan para diplomat Bengali. Suara nyaring yang tadi pagi membangunkan saya berulang kembali dengan lebih intens di ruang tengah ini: mengapa diplomat Bengali tidak langsung saja meninggalkan Kedutaan Pakistan? Kami pulang setelah makan malam, setelah paham bahwa kami harus mencari cara mengkoordinir aktivitas semua orang Bengali di AS dan meyakinkan bahwa diplomat-diplomat Bengali tidak bisa lagi menjadi pemimpin yang dibutuhkan. Saya mulai meragukan apakah para diplomat harus terus bertahan dengan Pakistan. Tanggal 30 Maret, Shamsul Bari dan saya diberi tanggung jawab mendatangi semua kedutaan, bertemu dengan duta besar atau perwakilannya, menjelaskan persoalan kami, dan memohon pengakuan atas Bangladesh sebagai sebuah negara merdeka. Tugas itu merupakan pengalaman yang sangat menarik. Kami mengunjungi banyak kedutaan dalam satu hari. Masing-masing memiliki gayanya sendiri-sendiri dalam menerima kami. Tetapi pertanyaan yang diajukan banyak yang sama. Anda mewakili siapa? Apakah Anda memiliki sebuah organisasi berbasis di AS? Bagaimana kami bisa ?mengakui? jika negara Anda tidak memiliki pemerintahan? Apakah ada pemerintah negara lain yang mendukung Anda? Bagaimana posisi diplomat-diplomat Anda di AS? Apakah mereka mendukung Anda? Kapan mereka akan membuat pernyataan terbuka? Berapa jumlah rakyat di ?Pakistan Timur? yang menginginkan Bangladesh merdeka? Hanya satu pertanyaan yang membingungkan kami: ?Apakah Anda memiliki pemerintahan sendiri?? Bari dan saya memutuskan bahwa kami harus memiliki pemerintahan sendiri secepatnya. Tetapi, bagaimana mungkin orang mendirikan pemerintahan di Bangladesh sementara masih berada di Washington? Saya punya ide. Saya bisa terbang ke Calcutta, menjumpai sejumlah orang untuk membentuk sebuah kabinet, dan mengumumkan pada dunia bahwa pemerintahan Bangladesh telah terbentuk. Dalam sekejap, kami akan memiliki sebuah negara dan sebuah pemerintah. Bari suka gagasan ini. Kami memutuskan saya akan berangkat ke Calcutta esok hari. [ bersambung ] The Flag Air minum COLDA - Higienis n Fresh ! ERDBEBEN Alarm
SONETA INDONESIA
Retno Kintoko Hp. 0818-942644 Aminta Plaza Lt. 10 Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan Ph. 62 21-7511402-3

Comments

« Previous entries