Saya tiga hari penuh ikut seminar Tung Desem, gratis…….. Tadinya saya pikir masak sich gratis pasti ada pesan terselubung ternyata memang benar gratis dan gilanya dari jam 9 pagi sampai jam 10.30 malam, entah energi apa yang dimilikinya sampai sampai dia engga cape teriak lompat lompat dan kita kita juga jadi ikutan he he he.
Banyak yang disharing sama beliau tapi yang paling saya ingat adalah kalau mau sukses berbisnis maka harus buat orang lain WIN dulu baru kita WIN, DALAM HIDUP HARUS TO GIVE BARU TO TAKE tapi kita kebanyakan mengenalnya TO TAKE & GIVE jadi ambil dulu baru kasih. Yang benar TO GIVE & TAKE jadi kasih dulu baru menerima.
Apa yang ada dalam cerita ibu Ietje dan bung Made sama ….. secara naluriah mereka menjalankan TO GIVE BAHKAN TANPA MENGHARAPKAN TO TAKE.
Salam epos, Lies Sudianti
2008/4/4 IETJE SRI UMIYATI GUNTUR :
> > > Dear Mas Made (MTA0 dan mas Cahyana yang sudah berbagi pengalaman ini. > > > > Berdagang dengan ‘hati nurani’. Bekerja dengan hati nurani. > Betullll….nggak perlu teori panjang lebar yang rumit. Yang penting adalah > filosofi hidup yang berlandaskan ketulusan hati. > > > > Saya jadi ingat, jaman kuliah di Bandung dulu. Ada warung padang di tengah > Pasar Balubur ( yang sekarang sudah tergusur menjadi bagian dari jalan tol > Pasteur-Suci). Kurang lebih samalah dengan Sang Uda Geblek ini. Kalau warung > padang di Pasar Balubur ini bisa minta nasi ? (ketahuan kan pengen > iritnya)…terutama kalau sedang akhir bulan dan kiriman ortu belum datang. > Menu ‘favorit’ hanya tahu balado ( yang tahunya besaaar banget), sayuran, > dan kuah gulai…Yang penting rasa padang. Yang dihitung Cuma nasi sama tahu > doang. Sayur dan kuah gulai yang seabreg-abreg gak dihitung. Padahal > sayurnya adalah sayur buncis dan kol yang mirip tumis, tapi berkuah ( sampai > sekarang jadi makanan favorit saya). > > > > Cara bayar ke warung padang ini juga ajaib. Kalau kita lagi nggak punya > duit, tinggal nulis sendiri di buku ‘hutang’. Ada berpuluh-puluh buku hutang > di situ (digantung di keranjang plastik dekat tiang warung) atas nama > masing-masing pelanggan. Kita nulis sendiri, makan apa. Banyaknya berapa. Sudah. > Kalau ada uang bayar. Kalau belum ada, ya nanti saja. Kadang saya bayar > langsung. Kadang seminggu. Kadang dua minggu?hehe. Ada yang belum bayar > sampai dia selesai kuliah dan diwisuda?Tiba-tiba datang ke situ, bawa duit > banyak buat bayar hutang makan tahun lalu?hehehe? > > > > Siapa saja pelanggan warung padang di Pasar Balubur, yang di daerah Taman > Sari itu ? Mayoritas adalah mahasiswa-mahasiswa ITB yang kampusnya di > Ganesha. Selain itu ada beberapa mahasiswa Unisba dan Unpas. Ada juga yang > dari Unpad, seperti saya?.(saya tahu warung ini juga dari sahabat saya yang > kuliah di ITB?warung edan katanya?). Berkat warung padang itu, kami bisa > tenang kuliah tanpa kelaparan. Kapan saja kami datang, selalu ada nasi > hangat dari dapur. Itulah istimewanya warung ini. Kadang saya malah minta > dibuatkan telur mata sapi…khusus…dengan pinggiran yang garing dan > tengahnya matang agak gosong.. > > > > Saya pernah tanya, apa Uni (yang selalu standby di situ adalah Uni) nggak > rugi kalau mahasiswa itu nanti nggak bayar. Dengan cuek dia bilang, biarin > ajalah. Namanya mahasiswa. Perutnya besar. Makannya banyak. Kalau sekarang > nggak punya uang, biarin aja. Toh kalau dia lapar, dia pasti datang ke sini > lagi. Waaah…aneh juga. > > > > Sekarang saya memahami, kenapa Uni seperti itu. Dia menganggap kami > anak-anaknya. Kadang ada yang sudah lulus dan kerja di Jakarta atau di luar > negeri tetap ingat ke dia. Lalu ketika datang ke Bandung, pasti mampir ke > warung sempit di tengah pasar. Berkangen ria dengan masakannya. Cita rasa > masakannya luar biasa enak. Saya masih terngiang rasa tahu balado dan > rendangnya, juga sayur kolnya…waaaah…. > > > > Saya kehilangan banget-banget ketika Pasar Balubur digusur…dan saya > kehilangan jejak warung padang itu… > > > > Moga-moga di jaman yang serba materialis ini kita dapat mengikuti jejak > ‘Uda Geblek’ dan ‘Uni Pasar Balubur’ yang memiliki hati untuk berbagi…. > > > > Salam, > > > > Ietje > > > > > > > —————————— > > *From:* TheProfec@yahoogroups.com [mailto:TheProfec@yahoogroups.com] *On > Behalf Of *CAHYANA P WIJANARKA > *Sent:* Friday, April 04, 2008 11:38 AM > *To:* TheProfec@yahoogroups.com > *Subject:* Re: [PROFEC] Dasar Padang Geblek !!! > > > > *Pemahaman yang sederhana tentang ketulusan bersedekah dan lebih bijak > dari Emotional Banking Account dari Stephen Covey* > > *Made Teddy Artiana * wrote: > > *Dasar Padang Geblek !!!* > > by MTA (www.orang-bali.com) > > > > > > Ketika pertama kali tulisan ini kutulis dan iseng kukirimkan ke > teman-teman dekat, beberapa teman yang kebetulan orang padang mengernyitkan > dahi. Bahkan ada seorang sahabat yang langsung menelponku, dan bertanya > lugas..”Heh Bali, maksudmu apa ?”.Ha..ha..ha..kontan aku tertawa..cobalah > baca dulu kawan, ajakku. Merekapun menurutinya. > > > > Dulu, kira-kira sepuluh tahun yang lalu, ketika masih berstatus mahasiswa, > sekaligus anak kos di Depok sana. Dengan modal cita-cita setinggi langit, > meskipun tanpa didukung dengan keadaan keuangan yang mencukupi, kami > bertahan. Cerita nonfiksi meskipun terdengar agak klise tentang perjuangan > seorang mahasiswa. > > Tersebutlah sebuah rumah makan padang yang sederhana dan seorang Uda > (sebutan kakak untuk saudara-saudara kita yang berasal dari Padang) yang > menempati tempat unik pada keseluruhan kisah perjuangan kami. Rumah makan > padang itu menjadi langganan kami, untuk mengisi kampung tengah alias perut > ketika cacing-cacing mulai memanggil. Hampir setiap hari kami *nongkrong*disana. Nama rumah makannya, tidak sempat untuk diingat, apalagi nama Sang > Uda. Tetapi jika disuruh mengingat wajah Si Uda, seratus persen aku sanggup. > Ingatan akan wajahnya sedemikian kuat sehingga aku tak pernah kesulitan > untuk melukiskannya. Nah berhubung nama asli kedua tidak sempat kami ingat, > kami memanggil keduanya dengan sebutan Geblek. Rumah makan itu sebagai > “Padang Geblek” dan Si Uda dengan sebutan “Uda Geblek”. Uniknya sebutan ini > berasal dari senior-senior kami, bahkan konon yang pertama kali menamai > sebutan itu adalah seorang senior yang kebetulan seorang berdarah Padang ! > > “Dari semua orang Padang, hanya dia yang Geblek”, begitu seloroh yang > sering muncul diantara kami. Anehnya ketika seloroh itu muncul, tidak ada > ekspresi ‘hina’ diwajah mereka, malah tampak jelas rasa hormat yang dalam > terhadap Si Uda Geblek. Dan satu lagi, ada sebuah percakapan yang unik yang > selalu diulang-ulang. Percakapan ini dulu juga sempat terjadi padaku dan > tentunya terjadi pada teman-teman baru yang belum mengetahuinya. > > > > * “Makan yok”* > > *”Dimana ?”* > > *”Di Padang Geblek”* > > *”Apa ???”* > > *”Iya..Padang Geblek..”* > > *”Lho kok Geblek ? Nama rumah makan padangnya kok aneh”* > > *”Iya nanti lu juga tahu kenapa Geblek, dari semua orang Padang, hanya dia > yang Geblek”* > > *”Mahal nggak ?”* > > *”Nah itu dia Gebleknya?tenang aja”* > > > > Ketika pertama kali makan ditempat itu, dengan segeralah kita mengetahui > mengapa sebutan Geblek diperuntukkan padanya. Si Uda tidak pernah akan > segan, menambahkan nasi atau sayuran bahkan lauk pada pesanan kita. > > > > *”Nasi lagi ? Cowok masak segitu makannya” * > > *”Ini ayam goreng kemaren malam, tapi masih bagus, mau ya ?” * > > *”Nih Uda tambahkan daging cincangnya” * > > *”Nih uda kasih rendang”. * > > > > Itu sederetan kalimat *favorite*-nya, yang begitu sering kami dengan > hingga hafal. Biasanya, mereka yang baru pertama kali kesana, akan > membelalakkan mata, terkaget-kaget menyaksikan kegeblekan Si Uda,sambil > menoleh kearah kami yang tersenyum-senyum geli. “Graaaatisssssss !!” seru > kami sambil tertawa bersama. Itulah Kegeblekan Si Uda. Tak jarang kami > menggeleng-gelengkan kepala jika mendengar pengalaman-pengalaman unik dari > begitu banyak teman-teman yang mengalami ke-geblek-kan Si Uda. > Uda?Uda?bagaimana bisa untung. Kaya ? Apalagi !!! > > > > Tapi memang itulah yang dilakukan Uda Geblek. Aneh tapi nyata. Geblek, > namun membawa berkah buat kami. Penasaran tentang filosofi hidupnya, setelah > kenal dekat akupun memberanikan diri bertanya kepadanya. > > > > *”Begini..”,* jawabnya sambil tersenyum mengangguk-anggukan kepala*,”Uda > ini punya anak dirantau yang juga kuliah, kalau uda baik sama > mahasiswa-mahasiswa, pasti anak-anak uda disana juga dibaikin sama > orang-orang.Kalau kita kasih orang makan, pasti anak-anak uda tidak akan > kekurangan makan. Doa-doa syukur orang yang kita tolong itulah yang jadi > keuntungan buat kita. Apalagi orang tua uda mengajarkan kalau mau kaya > jadilah Padang Bengkok, tapi kalau mau beruntung dalam hidup ini, kita tidak > bisa jadi Padang Bengkok, kita harus lurus”.* > > > > Betapa benarnya Si Uda Geblek, ternyata filosofi unik inilah yang membuat > ia tidak saja mendapatkan keberuntungan hidup tetapi juga sebuah keuntungan > bisnis yang tidak kecil. *”Padang Geblek”* menjadi sebuah brand yang > sangat kuat dikalangan para mahasiswa waktu itu. Belum lagi slogan “*Dari > semua orang Padang, hanya dia yang Geblek !!”,* yang diciptakan oleh kami > para mahasiswa menjadi sebuah slogan marketing yang unik dan ampuh. Saking > ampuhnya slogan itu, hingga hampir siapapun yang mendengarnya akan tertarik > untuk berkunjung ke rumah makannya. Bahkan lebih dari itu, kami-kami ini > seolah bertindak sebagai sales marketing yang membentuk sebuah fansclub yang > demikian loyal menyebarkan cerita-cerita kemurahan hati Si Uda Geblek. Itu > semua terjadi tanpa rekayasa. Bukan Si Uda yang menciptakan semuanya, tidak > ada ahli marketing yang disewa untuk menciptakan kondisi seperti itu, > apalagi teori-teori rumit yang memusingkan kepala dan kantong tentunya. > Singkatnya : tidak ada ‘Orang Pintar’ dibalik semuanya itu, yang ada > hanyalah orang yang berdagang dengan ‘Nuraninya’ dan hidup bertutur bahwa > orang-orang seperti inilah yang pasti mendapat dukungan dan keberuntungan > dari Sang Pemilik Hidup, The Invicible Hands sumber segala rezeki dan > keberuntungan. > > > > Akhir kata?Terimakasih atas ke-Geblekan mu Uda. Entah apa yang terjadi > pada kami-kami ini, jika Uda tidak geblek !!!. > > > > **** > > > > > —————————— > > You rock. That’s why Blockbuster’s offering you one month of Blockbuster > Total Access, > No Cost. > > —————————— > ::BCA:: > >