Serial # 40: Pemasaran Harus selalu diingat bahwa wirausaha berarti melayani dan membina masyarakat. Kekayaan materi bukanlah tujuan,.melainkan produk bawaan yang akan datang sendiri, sesuai dengan prestasi yang dicapai. Mutiara Jiwa Wiraswasta Sebagaimana diketahui, pemasaran adalah inti dari sebuah usaha. Tanpa pemasaran tidak akan ada yang namanya perusahaan. Akan tetapi, apa yang dimaksud dengan pemasaran itu sendiri, kadang masih rancu pengertiannya dikalangan pengusaha kecil. Banyak yang menganggap bahwa bidang ini identik atau sama dengan bidang penjualan. Orang penjualan, salesman, atau wiraniaga adalah orang pemasaran, dan kalau dibilang ?orang pemasaran?, sudah pasti salesman. Itu tidak tepat, karena sesungguhnya pemasaran mempunyai arti yang lebih luas daripada penjualan. Bidang penjualan merupakan bagian dari bidang pemasaran, sekaligus merupakan bagian terpenting dari bidang pemasaran itu sendiri. Sejarah pemasaran sudah berlangsung lama sekali, sama tuanya dengan sejarah peradaban umat manusia. Meski demikian, pemasaran sebagai ilmu pengetahuan boleh dikata menjadi baku, baru sejak abad yang lalu, ketika revolusi industri menyebabkan dampak dan pengaruh yang amat besar kepada dunia perdagangan. Pada awal peradabannya dizaman dahulu, manusia hidup seakan hanya untuk mempertahankan diri dari keganasan alam, serangan binatang buas, penyakit dan lain-lain. Untuk itu mereka membuat peralatan-peralatan keperluan hidupnya untuk dipakai sendiri, dari mulai peralatan berburu, membuat rumah tempat tinggal, pakaian dan lain sebagainya. Akan tetapi, dengan mengandalkan kecerdasannya, sedikit demi sedikit manusia bisa memperoleh kemajuan-kemajuan dalam ilmu pengetahuan, sehingga sejalan dengan itu mereka bisa menaikkan taraf hidupnya. Manusia menyadari bahwa mereka mempunyai ambisi, bakat serta kepandaian, sehingga tidak puas dengan apa yang telah dicapainya sekarang. Oleh sebab itu, secara konsisten, mereka berusaha untuk selalu mencari penemuan-penemuan baru, ilmu-ilmu baru, karya-karya baru. Sampai disatu taraf, didapatlah kesimpulan bahwa untuk lebih jauh melangkah kearah kemajuan, perlu adanya spesialisasi, dimana setiap orang akan menekuni bidang-bidang pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan kepandaian masing-masing. Dengan demikian, terbentuk suatu tatanan masyarakat yang setiap anggotanya memiliki rasa ketergantungan serta kepentingan terhadap orang lain. Kalau si A beternak ayam, maka kelebihan telur yang dihasilkan dapat ditukar dengan baju kebutuhannya yang kebetulan dibuat oleh si B, spesialis membuat pakaian. Ditempat lain si C dengan kepandaiannya membuat alas kaki, menukar produknya dengan beras dari si D yang piawai dalam bercocok tanam. Demikian seterusnya, sehingga dikenallah jenis transaksi yang dinamakan barter. Di Indonesia, sistem barter ini sudah dikenal sejak zaman dahulu, bahkan dilakukan oleh suku-suku terasing yang hidup dihutan-hutan. Dalam perkembangannya yang masih bisa dilihat sampai sekarang, ada hari-hari tertentu setiap pekan, yang dipergunakan oleh masyarakat untuk bertemu dalam suatu pasar, dimana orang bisa saling bertukar barang atau berjual beli apa saja. Di Sumatera dan beberapa daerah lain di Indonesia, hari-hari berlangsungnya pertemuan semacam bazar ini, disebut sebagai ?hari pekan?. Sejak budaya barter dilakukan orang, dimulai suatu sendi kehidupan baru dalam pergaulan manusia, yaitu perdagangan. Seiring dengan meningkatnya tingkat intelektualitas individual, dunia perdagangan makin lama makin mengalami peningkatan. Semakin tingginya frekuensi transaksi yang terjadi dan semakin banyak dan beragamnya komoditas yang terlibat, menyebabkan orang berpikir mengenai perlunya suatu alat pertukaran, yang bisa mewakili semua jenis barang secara universal. Alat dimaksud kemudian muncul menjelma kedalam bentuknya yang sekarang kita kenal sebagai uang. Dengan kehadiran uang, semakin mudah dan semakin lancarlah orang melakukan transaksi-transaksi sehingga dunia perdagangan pun semakin maju dan meningkat pesat. Pada awalnya, jumlah kebutuhan dan permintaan dalam pasar jauh melebihi pasokannya. Ini disebabkan karena pada waktu itu, belum ada mesin-mesin yang bisa memproduksi barang secara masal, sehingga ketersediaan produk tidak sanggup memenuhi semua kebutuhan masyarakat. Keadaan demikian berlaku hampir disemua komoditas, sehingga secara alamiah terbentuk mekanisme pasar yang cenderung menguntungkan pihak penjual. Keadaan itu disebut orang sebagai pasar penjual. Pada pasar semacam ini, belum dikenal istilah ?pelanggan adalah raja?, sebaliknya yang berlaku dilapangan ?penjual adalah raja?, karena penjual memiliki posisi penawaran yang lebih kuat. Situasi pasar yang seakan menjamin para penjual bahwa apapun yang mereka jual pasti laku, menyebabkan sikap penjual terhadap konsumennya bisa diekspresikan dalam kata-kata : ?Take it, or leave it ..!? (?Kalau mau, ambil, kalau tidak silahkan pergi..!?). (..bersambung..)