April 19, 2008 at 11:00 pm
· Filed under Uncategorized
Serial # 41: Pemasaran (lanjutan..) Keadaan pasar penjual berlangsung lama sekali, sampai suatu saat pecah Revolusi Industri di Eropa. Pada era ini telah ditemukan banyak jenis mesin yang sanggup memproduksi berbagai macam barang berkualitas tinggi, serta dalam jumlah yang berlimpah ruah. Hal ini membawa dampak bahwa segala kebutuhan masyarakat konsumen dengan mudah terpenuhi, berapapun banyaknya jumlah permintaan. Mekanisasi industri yang memungkinkan dilakukannya produk masal dengan mutu tinggi, merangsang para pedagang untuk berlomba-lomba menciptakan produk-produk baru yang menarik untuk ditawarkan pada calon pembeli. Gejala ini akhirnya berkembang menjadikan alam persaingan antar produsen dan penjual barang. Makin hari persaingan makin tajam, dan menyebabkan para penjual merasa semakin lama semakin sulit menjual produknya dipasar. Sebaliknya, pihak pembeli menjadi sangat diuntungkan. Mereka kini bebas membeli dari pihak manapun, karena produk yang mereka butuhkan tidak hanya tersedia disatu-dua penjual saja, tapi banyak. Keinginan tentang mutu pun menjadi mudah, karena dengan adanya persaingan, produsen mau tidak mau harus bisa menyediakan barang berkualitas baik. Dengan demikian, pasar yang tadinya merupakan pasar penjual berubah menjadi pasar pembeli. Disinilah berawal pemeo yang mengatakan bahwa ?pembeli adalah raja..?. Akhirnya, perubahan zaman memaksa orang berpikir. Para pakar bisnis mulai mencari akar permasalahan yang telah terjadi dan berusaha untuk mencari jalan keluar yang terbaik. Fenomena-fenomena masa lalu dipelajari dan dibandingkan dengan apa yang menggejala saat ini. Kiat-kiat bisnis dalam memproduksi barang, menetapkan harga, mempromosikan serta mendistribusikannya dianalisis lebih jauh serta diformulasikan lagi agar lebih sesuai dengan tuntutan pasar. Lama-kelamaan, kebutuhan akan suatu cabang pengetahuan yang dapat membantu para pedagang, businessman serta peminat kewirausahaan berkembang menjadi suatu bidang yang kita kenal sekarang dengan sebutan bidang pemasaran atau marketing. (..bersambung..)
Permalink
April 19, 2008 at 3:00 pm
· Filed under Uncategorized
- Natural Voice Guidance - High Resolution Touch Screen - Bluetooth - MP3 & Video Player - Picture Viewer - 2D/3D View - Automatic Reroute - Day/Night Mode - Walking Mode - Add unlimited waypoints - Space to add your own music, pictures, and video - Extensive POI database - Map landforms such as rivers & parks displayed - Support E-book function - AC wall charger - Built-in Li-Ion Battery - Audio output: built-in 2W speaker and earphone jack
For further information please visit our website http://www.jointech.com.hk
Permalink
April 19, 2008 at 3:00 pm
· Filed under Uncategorized
Sebuah pembahasan yang menarik dan saya yakin bisa banyak membantu rekan rekan yang ingin menekuni bisnis sebagai wirausahawan mulailah melihat ceruk ceruk yang bisa anda masuki. Kuncinya Be Innovative… be difference…. saat ini banyak peluang usaha yang tersebar namun kita memang harus jeli untuk membangun BLUE OCEAN dengan memberikan added value dari produk atau jasa yang kita geluti.
Wah kapan kapan gimana nich kalau kita ketemuan pak buat ngobrol ngobrol untuk membangun semangat entrepreneurship di kalangan Profecers.
Salam epos, Lies Sudianti Founder & Moderator 0817 0707 770 0813 1887 3480 lies.sudianti@gmail.com (japri)
On 4/17/08, darmaactivation wrote: > > > > Menggarap niche market > > Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengembangkan bisnis/usaha > kita ialah dengan menggarap niche market atau ceruk-ceruk pasar > khusus. Menggarap ceruk pasar khusus (niche marketing) ini juga > merupakan salah satu cara yang terbukti cukup ampuh bagi para > entrepreneur pemula agar bisa survive dalam merintis bisnisnya. > > Sesuai namanya, niche market memang bukan pasar yang massal yang > populasinya sangat luas. Namun niche market ini ceruk yang lebih > spesial dan bisa digarap lebih dalam. Selain itu target pasarnya lebih > jelas dan karakteristiknya lebih homogen sehingga memudahkan kita > dalam melayani sektor ini. Kalau kita cukup jeli sebenarnya di setiap > segmen pasar selalu ada niche market yang bisa dikembangkan dan > digarap, hanya saja kita ini sering tidak menyadarinya bahwa ternyata > ceruk itu ada, sangat potensial dan bisa digarap jadi duit. Kita baru > tersentak setelah ada pelaku bisnis lain yang sukses menekuni di ceruk > pasar itu. > > Saya punya beberapa relasi yang sukses mengembangkan bisnisnya dengan > strategi niche marketing seperti itu. Contohnya, relasi saya di > Cikarang. Dia alumni Jepang yang merintis bisnis pengembangan software > dan implementasinya, pusatnya di Cikarang. Jadi dia bisnis TI. Kawan > saya ini tidak menyasarkan software TI-nya untuk pasar korporat secara > umum seperti SAP, Oracle, dll, namun mereka menyasar target market > perusahaan2 Jepang yang ada di Indonesia, khususnya yang banyak > bertebaran di seputar Cikarang. Kawan2 tentu tahu di seputar Cikarang > memang banyak pabrik-pabrik Jepang dari Sanyo hingga Panasonic. Relasi > saya itu mendekati dan meyakinkan bos-bos perusahaan Jepang yang ada > di indoensia agar pakai software buatan dia. Dan ternyata cukup > berhasil, kini klien mereka puluhan perusahaan2 manufaktur Jepang di > berbagai kawasan industri Jabotabek. Selain pengusaan TI yang bagus, > kedua kawan saya ini juga ditopang pemahaman bahasa dan budaya yang > baik karena pernah sekolah di Jepang dari beasiswa. Jadi, kawan saya > tidak gegabah dan serakah dalam membangun bisnis TI-nya dengan > menggarap semua segmen, namun dia melilih niche market potensial yang > dia lihat dan dekat dengan dia, yakni perusahaan-perusahaan Jepang di > sepuutar Cikarang. Dan dengan cara itu dia sangat survive sebagai > entrepreneur. > > Sebenarnya di Indonesia banyak sekali contoh2 pelaku bisnis dan > entrepreneur yang survive berkat kejeliannya mengembangkan niche > market (ceruk-ceruk pasar khusus) seperti itu. Di bisnis riset > pemasaran misalnya, kita tahu bahwa yang menjadi pemain terbesar alias > kakapnya adalah AC Nielsen, perusahaan asing yang juga kondang dengan > rating acara2 televisi. Namun jangan salah, beberapa perusahaan riset > pemasaran lokal juga sukses dan membesar karena kejeliannya > mengembangkan strategi niche marketing. Mungkin sudah ada yg familier > dengan nama Frontier Markating Research, dia sangat kuat untuk riset > pemasaran di industri consumer good. Lalu perusahaan riset MARS, > sangat kuat di klien-klien perbankan. > > Yang jelas niche market ini bisa dicari dan dikembangkan di tiap > industri, hanya saja memang kita harus jeli dan realistik. Banyak > enterepreneur yang sukses dan bertahan lama di bisnisnya karena > strategi ini. Sudah banyak yang membuktikan bahwa dengan membidik > ceruk-ceruk khusus itu ternyata bisa ‘hidup’, survive, secara > berkelanjutan. Ada relasi saya yang kerjanya ‘hanya’ mensuplai tanaman > hias dan vas bunga untuk beberapa lembaga asing, sampai sekarang > bisnis dia hanya itu namun terus eksis. Nampaknya itu kecil, padahal > hasil ekspor itu sangat lumayan, bisa menghidupi lebih dari cukup. Ada > juga relasi saya yang lain yang orang tuanya menjadi supplier papan > kayu ke tiga perusahaan Jepang sampai turun-temurun. Yang saya heran, > meski hanya mensuplai papan kayu ke tiga perusahaan, namun omset > tahunannya diatas Rp 30 miliar. Ia telaten melayani niche marketnya. > > Bagi kawan2 sudah baca buku “10 PENGUSAHA YANG SUKSES MEMBANGUN BISNIS > DARI 0″ disusun Sudarmadi terbitan Gramedia, disana juga ada contoh > tiga pengusaha yang sukses membangun bisnisnya dengan mengandalkan > strategi niche marketing di awal perintisannya. Yaitu Winita > Kusnandar, pengusaha wanita yang juga pemilik perusahaan konsultan > hukum (law firm). Ketika beliau merintis usaha law firm, beliau tidak > langsung menyasarkan jasa hukumnya bagi semua target market(publik), > namun ke perusahaan-perusahaan asing di Indonesia terutama perusahaan > pertambangan. Lalu Pak Budianto Darmastono yang menekuni bisnis kurir, > beliau tidak serta merta menyasarkan bisnis kurirnya sebagai kurir > untuk umum seperti PT Pos, TNT, DHL, TIKI, dll. Namun kurir khusus > untuk pengantaran billing kartu kredit. Dan beliau sukses sehingga > kini sudah punya karyawan lebih dari 2.000 orang. Lalu, Pak Ronny > Lukito pengusaha tas dari PT Eksonindo juga tak melupakan strategi > niche marketing ini dengan memasarkan tas merek Eiger khusus untuk > kalangan petualang/outdoor/streetgear, dan saya kira tak usah > dijelaskan Eiger termasuk merek tas terpopuler di Indonesia saat ini. > Jadi beliau2 itu survive dan sukses karena jeli dan mengembangkan > niche market. > > Disini pesan utamanya, kalau kita hendak mengembangkan bisnis, kita > tak perlu serakah dan bernafsu untuk melayani semua segmen pasar > sekaligus. Nggak usah kemaruk. Apalagi saat perintisan. Selain sulit > mengarahkan strategi kita, menggarap pasar yang massal itu biasanya > persaingannya lebih ketat karena umumnya pasarnya sudah diketahui > khalayak umum. Lebih baik memulai mengembangkan ceruk2 khusus (niche > market)yg potensial dan dekat dengan kita, dan yang kita sudah punya > pengetahuan dan kompetensi untuk melayani pasar itu. Dengan cara itu > target market kita menjadi lebih jelas dan otomotis lebih mudah > mengarahkan bidikan termasuk program promosi. Tentu, kalau kita sudah > punya basis pasar yang kuat di niche market, bolehlah kita mulai > melirik pasar yang lebih besar. Jadi, cobalah memulai mengembangkan > niche market di dekat kita, siapa tahu ceruk itu menjadi jembatan > sukses yang tak terbayangkan sebelumnya. > > Semoga sukses buat kawan2 semua n thanks. > > >
Permalink
April 19, 2008 at 3:00 pm
· Filed under Uncategorized
Khusus buat rekan rekan yang hobi tanaman hias khususnya Anthurium yang sedang ngetrend.
Permalink
April 19, 2008 at 3:00 pm
· Filed under Uncategorized
Pak Rumadi yang baik,
Servant Leadership memang sebuah judul baru namun setelah membaca isinya sejujurnya sikap melayani memang wajib dilakukan oleh siapa saja baik kepada internal customer maupun external customer mereka.
Terima kasih buat pencerahannya.
Salam epos, Lies Sudianti Founder & Moderator 0817 0707 770 0813 1887 3480
On 4/18/08, Rumadi H wrote: > > A servant leader is one who leads by serving others. > The servant leader gets things done by serving others. > The servant leader serves others by empowering them to use their talents > to accomplish common goals while they are meeting their needs and growing as > unique human being > > Sebenarnya apa yang dimaksud dengan konsep servant leadership? Pendeknya > servant leadership adalah kepemimpinan yang berfokus pada melayani pihak > lain. Donald Lantu, seorang praktisi dalam bidang kepemimpinan mengatakan > bahwa keberadaan seorang servant leader di sebuah perusahaan akan memberikan > sesuatu yang positif seperti budaya pelayanan yang prima dalam perusahaan. > > “Mereka akan bisa membuat para pelanggan, karyawannya puas terhadap > perusahaan. Artinya apa? Dia bisa membawa perusahaan untuk menuju kesuksesan > yang bisa berjalan secara sustain dalam jangka panjang. Jadi > berkesinambungan”, ujarnya. Hal itu akan menciptakan perusahaan yang sehat > baik dari segi financial maupun kepuasan para stakeholder. > > Hal itu terjadi karena dengan kepemimpinan yang melayani, seorang pemimpin > akan fokus pada pengembangan individunya. Seorang servant leader akan > menaruh perhatian dan mengembangkan karyawan atau anak buahnya. Imbasnya, > karyawan akan percaya, respek kepada pemimpin dan perusahaan akan > mendapatkan hati dari anak buah. Kondisi ini akan membuat karyawan denagn > sendirinya akan memberikan yang terbaik, loyal dan berusaha keras untuk bisa > menciptakan produk-produk baru yang inovatif sesuai tuntutan konsumen. > Mereka bisa bekerja secara efisien dan professional serta melakukan proses > bisnis secara lebih cepat dari seharusnya. > > Pendekatan servant leadership berbeda dengan pendekatan seorang guru > kungfu yang selalu menyimpan jurus kungfu terakhir bagi dirinya sendiri > tanpa pernah mengajarkannya kepada muridnya. Karena siapa tahu, suatu hari > nanti si murid tersebut dapat mengalahkan gurunya, sehingga posisi dan > bahkan nyawa gurunya terancam. Sudah barang tentu filsafat guru kungfu ini > berbeda dengan filsafat servant leader dalam dunia pelayanan, baik di kantor > ataupun di arena publik. > > Mengubah paradigma untuk beralih dari “hikmat” yang sudah sejak dulu kita > pegang dan diturunkan oleh pendahulu kita jelas tidak mudah. Seorang servant > leader adalah seorang yang memberikan pengaruh transformasional pada > orang-orang di sekitarnya, yang diubahkan secara positif dalam berbagai > dimensi: intelektual, relasional, sosial dan spiritual. Inilah yang dimaksud > Robert Greenleaf dalam bukunya “Servant Leadership” > > Ada pengalaman menarik yang perlu dicontoh ketika selama beberapa dekade > industri komputer dikuasai oleh IBM, Hawlett-Packard dan Apple, pada tahun > 1984 seorang anak muda bernama Michael Dell, mulai menjual komputer rakitan > dari garasi sekolahnya sesuai dengan pesanan pelanggan. Ini jelas bukan > “hikmat” industri komputer yang umum. Ini melanggar norma yang umum. > Industri komputer mendikte pasar menurut spesifikasi produk yang mereka > tentukan. Tapi Dell memberi kesempatan bagi pelanggan untuk merakit komputer > sesuai kehendak mereka. Dell mendengarkan mereka,namun ide ini tidak segera > diikuti oleh pemimpin pasar lainnya, dan sejarah membuktikan dengan tampil > solo Dell langsung meroket menjadi pemain papan atas di dunia komputer. > > Sebuah buku yang menarik tentang kepemimpinan yang melayani (servant > leadership) ditulis oleh Dr. Kenneth Blanchard dan kawan kawan, berjudul > Leadership by The Book (LTB). Ken Blanchard adalah juga co-author dari > buku-buku manajemen yang sangat laris, seperti The One Minute Manager, > Raving Fans, Gung Ho, dan Everyone?s Coach. Buku LTB mengisahkan tentang > tiga orang karakter yang mewakili tiga aspek kepemimpinan yang melayani, > yaitu seorang pendeta, seorang professor, dan seorang profesional yang > sangat berhasil di dunia bisnis. Tiga aspek kepemimpinan tersebut adalah > HATI yang melayani (servant HEART), KEPALA atau pikiran yang melayani > (servant HEAD), dan TANGAN yang melayani (servant HANDS). > > Diadaptasi dari : > http://www.butler.edu/studentlife/hampton/principles.htm > http://www.greenleaf.org/ > http://en.wikipedia.org/wiki/Servant_leadership > http://www.servantleadership.org/ > http://www.portalhr.com/majalah/edisisebelumnya/pengembangan/1id852.html > http://rtumpal.wordpress.com/ > http://www.mail-archive.com/buni@yahoogroups.com/msg00179.html > > =============================================================== > Ingin belajar, berlatih, dan menjadi pemimpin yang melayani? > > Ikuti Seminar Internasional Kepemimpinan dalam Bisnis: > LEADERSHIP SEMINAR > > LEADERSHIP SEMINAR adalah seminar akbar kelas dunia yang dipersembahkan > oleh organisasi global Network Twentyone. Seminar ini telah diselenggarakan > di lebih dari 20 negara di seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia. > > Seminar ini mengajak setiap orang untuk melihat hidup lebih jauh, lebih > dalam, luas, dan lebih berarti daripada sekedar sukses secara finansial. > > Anda akan mendengar dan melihat para pelaku bisnis yang bukan saja sangat > sukses tetapi juga berhasil menerapkan nilai-nilai kehidupan yang luar > biasa, bukan karena mereka lebih pandai, tetapi karena mereka sudah > menggunakan URUTAN PRIORITAS yang benar, yaitu : > 1. Tuhan > 2. Kehidupan keluarga yang harmonis > 3. Memiliki bisnis yang kuat dan langgeng > > Tempat : Istora Senayan, Jakarta > > Waktu : > Jumat, 18-April-2008 pukul 19:30 - 22:00 > Sabtu, 19-April-2008 pukul 16:00 - 22:00 (istirahat 1,5 jam) > Ahad, 20-April-2008 pukul 13:00 - 17:00 > (pintu masuk akan dibuka satu jam sebelum acara dimulai) > > Tiket : Rp 560.000 > > Pesan tiket via SMS dengan format : > LS#Nama#Alamat# kirim ke 021-92319175 (Rumadi) > > Pembicara utama: > Basil & Leonie Harris (Australia) > Kevin & Tamsine Harris (South Africa) > > Penyelenggara : Network Twentyone > http://www.n21corp.com/ > =============================================================== > > >
Permalink
April 19, 2008 at 11:00 am
· Filed under Uncategorized
Bersamaan dengan ulang tahun TMII yang ke-33, hari ini ( 19 April), Departemen Pertanian kembali akan me-launching pasar tani tugu. Ide pasar ini adalah untuk mempertemukan petani dengan pembeli secara langsung sehingga konsumen memperoleh produk pertanian berkualitas supermarket dengan harga jauh lebih murah.
Kami beruntung, CV. Diva Maju Bersama juga diundang sebagai salah satu peserta.
Lokasinya tidak jauh dari gedung Langen Sasono Budoyo dan rencananya akan di resmikan oleh mentan Anton Apriyantono http://antonapriyantono.com/
Pasar yang secara rutin dilakukan setiap Sabtu dan Minggu ini akan berlangsung selama satu tahun sejak diluncurkan.Sebelumnya Pasar Tani Tugu juga pernah di selenggarakan di Monas dan Pesantren Daarut Tauhid milik K.H. Abdullah Gymnastiar di Bandung.
Menurut Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) Departemen Pertanian (Deptan) Djoko Said Damardjati, yang saya kutib dari Kedaulatan Rakyat, selama tahun 2008 ini, pemerintah berencana akan membangun sekurangnya 17 Pasar Tani Tugu di seluruh Indonesia.
Gagasan Pasar Tani Tugu di latar belakangi pemikiran dari melihat gambaran umum situasi petani dan pertanian Indonesia yang dianggap masih suram. Petani Indonesia rata-rata hanya memiliki lahan sempit, penerapan input dan teknologi pertanian yang masih sangat sederhana, akses ke sumber permodalan usaha yang masih sangat terbatas dan kurangnya akses terhadap informasi dan teknologi. Situasi dan kondisi ini telah secara sistemik menempatkan posisi tawar petani pada posisi yang lemah.
Salah satu upaya terobosan yang dapat dilakukan pemerintah dalam meningkatkan posisi tawar petani produsen adalah dengan menyediakan outlet Pasar Tani agar petani dapat memasarkan hasil pertaniannya, baik segar maupun olahan, secara langsung kepada konsumen.
Pasar Tani bersifat non permanen, bertenda dan hanya buka secara rutin pada hari dan waktu yang telah ditentukan.
Tujuan pembangunan Pasar Tani adalah :
a.Menyediakan sarana pemasaran hasil pertanian bagi petani/kelompok tani/gabungan kelompok tani.
b.Membangun dan menguatkan kelembagaan petani sehingga petani mempunyai posisi tawar yang kuat dalam pemasaran produk hasil pertanian.
c.Mengubah pola pikir petani menjadi pola pikir bisnis yang mengedepankan mutu dan efisiensi (petani menjadi pemasok).
d.Meningkatkan kemampuan petani dalam memasarkan hasil pertaniannya.
e.Meningkatkan akses pasar petani secara langsung kepada konsumen.
f.Menyediakan saran pemasaran sebagai ajang promosi, penumbuhan ‘image’ cinta produk Indonesia, dan pengembangan pasar produk pertanian Indonesia.
g.Membangun jaringan pemasaran hasil pertanian.
Ide membuat pasar tani diperoleh dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat yang juga secara rutin membuat wadah untuk mempertemukan petani secara langsung dengan pembeli. Sementara Pasar tani di Malaysia sudah berkembang sejak tahun 1986. Pengelolaan pasar itu ditangani oleh Federal Agricultural Markering Authority (FAMA), sebuah lembaga yang berada di bawah Kementerian Pertanian dan Industri Dasar Pertanian Malaysia.
Salam FUntastic! Evi http://gula-aren.blogspot.com
Permalink
April 19, 2008 at 3:00 am
· Filed under Uncategorized
Dear all Profecers,
Dalam segala keterbatasan yang saya miliki saat ini saya masih tetap berusaha untuk bisa online setiap hari padahal untuk itu saya harus naik mobil ke jalan raya sekitar 3 kilometer dari rumah menuju warnet terdekat. Hari ini aku nyaris engga bisa menyapa anda semua karena seharian aku harus menyelesaikan pekerjaan domestik berhubung pembantuku sudah dua minggu tidak masuk dengan alasan sakit… entah apakah memang sakit atau cuma alasan untuk berhenti. Harus kuakui menangani rumah dan halaman seluas milikku ini membutuhkan tenaga yang luar biasa disamping manajemen yang bagus kalau tidak rasanya engga cukup waktu maupun tenaga untuk mengerjakannya. Herannya selama ini pembantuku bisa melakukan itu semua dengan baik dan seperti engga kerepotan, barulah setelah dia engga ada aku harus mengangkat topi buatnya karena dia bisa menjalankan semua tugasnya dengan baik dalam waktu yang singkat, da selalu pulang jam 4 sore dan semua beres.
Untung malam ini aku ada waktu sehingga bisa on line hampir 4 jam.
Mau ngingetin aja besok Sabtu hari hobi ya tolong sharing pengalaman anda tentang hobi yang paling anda sukai.
Salam epos, Lies Sudianti
Permalink
April 19, 2008 at 3:00 am
· Filed under Uncategorized
Kualat dong orang orang yang selalu berasumsi buruk pada orang lain, tapi ini memang ekstrim banget ya he he he. Semoga ini bisa menjadi pelajaran berharga buat siapa saja karena kecurigaan yang berlebihan terkadang bisa fatal. Banyak contoh yang kita lihat di layar kaca dimana seorang suami tega menghabisi nyawa istrinya karena dituduh selingkuh, ada istri yang menghabiskan waktunya untuk membuntuti kemana saja suaminya pergi karena merasa suaminya menyembunyikan sesuatu yang dicurigai sebagai penyelewengan. Berbahagialah mereka yang bisa melepaskan diri dari negative thinking apapun itu karena dengan demikian hidupnya terasa ringan dan kalau toch akhirnya pada kenyataannya ada hal buruk yang terjadi maka energi yang dimilikinya masih full untuk mengcounter beban akibat bencana tsb. ketimbang udah curiga curiga eh kejadian juga padahal energinya sudah habis karena kurang tidur selama berbulan bulan memikirkan hal hal yang mungkin akan terjadi. Salam epos, Lies Sudianti Founder & Moderator 0817 0707 770 0813 1887 3480 lies.sudianti@gmail.com (japri)
Daniel wrote: Dear all Ini ada artikel dari milis Alumni UKI. semoga bermanfaat GBU
NOT ME, BOSS Ini cerita dari seorang teman yang bertahun silam pergi ke Papua New Guinea untuk urusan bisnis. Ia ditemani oleh dua orang temannya dan tinggal di sebuah rumah di pedalaman. Rumah ini dirawat oleh seorang lokal, yang tugasnya hanya dua yakni merawat rumah dan memasak. Semuanya oke-oke saja, kecuali satu hal: mereka punya satu botol anggur yang mahal yang disimpan di ruang makan, yang setiap harinya sepertinya terus berkurang padahal mereka tidak pernah meminumnya. Anggur ini mahal dan mereka ingin menyimpannya untuk acara spesial. Yang mereka temukan adalah setiap hari jumlahnya sedikit demi sedikit berkurang.
Mereka pun memutuskan untuk mengukur kekurangannya dengan membuat garis kecil pada botol, sehingga apabila memang berkurang lagi mereka bisa tahu dengan jelas. Dan setelah membuat garis tersebut, mereka menemukan memang jumlah anggur dalam botol tersebut berkurang terus setiap hari, walau sedikit demi sedikit. Mereka tidak punya tertuduh lain lagi selain sang penunggu rumah lugu tersebut, sebab ketiganya memang jarang di rumah.
Suatu kali ketiganya pulang ke rumah dalam keadaan mabuk dan mereka merencanakan memberi pelajaran si penunggu rumah. Mereka mengambil botol anggur dan mengganti isinya dengan air seni mereka. Setelah itu mereka letakan kembali seperti biasa. Dan yang mereka temukan, setiap hari jumlah air seni ini pun berkurang seperti halnya anggur.
Suatu hari mereka tidak tega lagi membayangkan bahwa si penunggu rumah yang baik hati ini sampai meneguk air seni mereka. Mereka memutuskan untuk memanggil si penunggu rumah dan menanyakan perihal anggur. Dan dengan gaya yang tidak menuduh langsung, mereka mengatakan bahwa mereka perhatikan persediaan anggur mereka di satu-satunya botol di rumah itu selalu menipis, dan pasti ada seorang di rumah ini yang meminumnya!
Serta merta si penunggu rumah polos ini menyahut “Not me, Boss! Selama ini saya hanya selalu pakai untuk keperluan memasak untuk para Boss!”
Moral kisah :
Kalau bisa bertanya, kenapa berasumsi?
Kalau bisa sederhana, kenapa dibuat rumit?
Kadang kita justru mendapatkan akibat dari perbuatan kita sendiri, yang sebenarnya tidak perlu.
Sumber : Anonymous
Permalink
April 19, 2008 at 3:00 am
· Filed under Uncategorized
Buat para Srikandi Profec, Ayo siapa yang berani menerima tantangan Pak Dharma Hutauruk hick hick hick, saya terus terang jadi mengkeret waktu dibilang dress code nya pake kebaya. Jadi ingat saat SMA ….. kebetulan sekolahku SMA St. Theresia waktu itu murid muridnya cewek semua (belakangan baru digabung), engga tau iseng banget wali kelas kami waktu itu bikin peraturan hari Kartini murid kelas kami harus pakai pakaian daerah. Semua teman teman excited banget milih milih baju yang akan dikenakan….. aku masih inget banget senyuman Ibu Ning yang yakin kali ini dia sanggup memaksa aku pakai pakaian daerah karena di sekolah aku terkenal tomboy. Beberapa temanku yang juga tomboy memilih bolos sekolah dengan risiko distrap tapi aku punya cara lain untuk tetap mematuhi aturan memakai pakaian daerah tapi tetap engga harus tamipil feminine …. akhirnya aku tampil dengan TELUK BELANGA hick hick hick malah paling ganteng. Ibu Ning hanya geleng geleng kepala engga nyangka aku berhasil mencari jalan lolos dari keharusan pakai baju daerah yang feminine karena memang engga dijelaskan dari awal. Salam epos, Lies Sudianti Founder & Moderator 0817 0707 770 0813 1887 3480
Dharma Hutauruk wrote: From: “Dharma Hutauruk” To: , “Anita Agness” , “Anna Hendraswari” , “Arin.Kartika” , “CCF Jakarta” CC: “Chaterin WEB” , “Christina Meliana” , , “Deasy Ariani” , “Dinyah Latuconsina” , “Eno Susy Retno JAM Trans TV” , , “Hanna Latuputty” , “Jackie Muaya” , “Lies Sudianti” , “Linda Kaligis” , “Tatyana Sarif” Subject: Wanita Ayo Lebih Berkarya Date: Fri, 18 Apr 2008 18:35:28 +0700
Dear Teman-teman, Dalam Rangka memperingati Hari Kartini, Erlangga mengundang Anda pada Acara: Wanita, Ayo lebih Berkarya! Tempat: PT. Penerbit Erlangga Jalan H. Baping Raya No.100, Ciracas Jakarta Timur Telp. 871 7006 ext. 100 atau 203 Hari : Selasa tanggal 22 April 2008 jam 10.00 ? selesai Fashion show by ZEMA Management Motivation for Woman Leaders by Eileen Rachman Pengumuman peserta berbusana terbaik Pengumuman Door Prize RSVP: 0812 9920 230 (Dedeh), 0812 1085 613 (Riza) Dress Code : Kebaya
Salam EPOS, Lies Sudianti Founder & Moderator The Profec 0816995258 021-98095248
Permalink
April 19, 2008 at 3:00 am
· Filed under Uncategorized
Bener banget pak, belajar tak hanya di sekolah banyak hal bisa dipelajari justru bukan di sekolah…. yaitu di sekolah kehidupan. Kita lihat saja banyak orang yang pendidikannya biasa biasa saja malah meraih kesuksesan bahkan mengalahkan mereka mereka yang berpendidikan tinggi walaupun ini bukan jaminan tetapi memang pendidikan bukan segala galany6a ada unsur yang lebih penting untuk bisa meraih sukses yaitu ATTITTUDE. Seorang yang punya sikap JUARA maka dia akan menaklukkan segala rintangan untuk bisa meraih impian mereka dengan cara yang mulia. Salam epos, Lies Sudianti Founder & Moderator 0817 0707 770 0813 1887 3480 lies.sudianti@gmail.com
Dharma Hutauruk wrote: st1:*{behavior:url(#default#ieooui) } Kak Seto mengatakan? belajar dapat dilakukan dimana saja? dengan cara yang unik, kreatif, serta inovatif. Bukan mengikuti anjuran Kak Seto, maka Rebecca Greene menuliskan buku berjudul : Teenagers? guide to school outside the box? Belajat tak Hanya di Sekolah memandu Anak menuju keberhasilan dengan memberi begitu banyak pertanyaan-pertanyaan menantang yang mendorong siswa menjelajahi area tidak dikenal. Anak akan mempelajari banyak hal baru yang tidak diperoleh di bangku Sekolah- terutama cara mengembangkan dan menguji batas kemampuannya. Anak dipersilahkan segala hal yang menjadi minatnya, lalu mengejarnya, mengalaminya dan melihat berbagai kesempatan datang berkejaran. Mungkin buku ini tidak begitu disukai oleh para Guru yang menginginkan Anak seusia 13 tahun harus berada di bangku sekolah untuk belajar bersama. Juga kurang berkenaan di mata para birokrat di kementerian Pendidikan Nasional yang mengejar angka wajib belajar. Namun sesungguhnya buku ini membuka mata kita, mata para remaja kita akan ?Belajar Alternatif?. Merayakan Hari Pendidikan Nasional besok, semoga buku ini menjadi hadiah Ulang Tahun bagi kita semua yang menyintai pendidikan. Ingin mengetahui lebih lanjut???? Klik www.erlangga.co.id Judul buku : BELAJAR TAK HANYA DI SEKOLAH Penulis : Rebecca Greene Penerjemah : Valentinus Eric ISBN (13) : 978-979-015-895-5 No. Kode : 61-12-017-0
Permalink