Diskusi Keuangan Google Search
 



Archive for April, 2008

31. Uang Itu Membakar Jari-jari Tangannya.

======================================= THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER [ Seri : “Membangun Ekonomi Rakyat Indonesia” ] ======================================= [Ec_Q] BANK KAUM MISKIN Oleh : Muhammad Yunus Peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2006 Bersama Alan Jolis Belajar dari : Kisah Muhammad Yunus dan Grameen Bank, dalam Memerangi Kemiskinan 31. Uang Itu Membakar Jari-jari Tangannya Setelah semua anggota lulus ujian, akhirnya datanglah hari saat salah seorang anggota kelompok mengajukan permohonan pinjaman pertama, biasanya sekitar AS$25 di era ?80-an. Bagaimana perasaannya? Luar biasa. Dia tidak bisa tidur malamnya. Dia bergulat dengan ketakutan akan gagal, ketakutan akan sesuatu yang belum pernah diketahuinya. Pagi hari saat ia akan menerima pinjamannya, ia hampir tidak jadi. Baginya, AS$25 jelas merupakan tanggung jawab yang kelewat besar. Bagaimana dia akan mampu membayarnya kembali? Tidak seorang perempuan pun dalam keluarga besarnya pernah punya uang sebanyak itu. Teman-temannya datang untuk meyakinkannya dengan berujar, ?Lihat, kita semua harus melaluinya. Kami akan mendukungmu. Kami ada disini untuk itu. Jangan takut. Kami akan bersamamu. Ketika akhirnya ia menerima uang AS $ 25 itu, tubuhnya gemetaran. Uang itu membakar jari-jari tangannya. Air mata berurai di wajahnya. Dia tidak pernah melihat uang sebanyak itu sepanjang hidupnya. Dia tidak pernah membayangkannya ada dalam genggamannya. Dia menggenggam uang itu selembut ia menggenggam seekor burung atau kelinci, sampai seorang menganjurkan untuk menyimpan uangnya di tempat aman agar tidak kecurian. Begitulah hampir setiap nasabah Grameen mengawalinya. Seumur hidupnya sebagai perempuan ia diberitahu bahwa ia tidak baik, bahwa ia hanya membawa sengsara bagi keluarganya, bahwa mereka tidak mampu membayar mas kawinnya.* Seringkali ia mendengar ibu atau ayahnya berkata bahwa ia seharusnya sudah dibunuh saat lahir, digugurkan saat di kandungan, atau dibiarkan mati kelaparan. Bagi keluarganya, ia tidak berarti apa-apa kecuali sebuah mulut lain yang perlu makan, mas kawin lain yang perlu dibayar. Tetapi saat ini, untuk pertama kali dalam hidupnya, sebuah lembaga memberi kepercayaan kepadanya dengan meminjamkan sejumlah besar uang. Dia berjanji tidak akan pernah mengecewakan lembaga itu atau dirinya sendiri. Dia akan berjuang untuk memastikan setiap sen yang dipinjamnya dibayar kembali. [ bersambung ] * Cttn: Di negara-negar Asia Selatan, perempuanlah yang membayar mas kawin kepada pihak laki-laki. The Flag Air minum COLDA - Higienis n Fresh ! ERDBEBEN Alarm
SONETA INDONESIA
Retno Kintoko Hp. 0818-942644 Aminta Plaza Lt. 10 Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan Ph. 62 21-7511402-3

Comments

[PROFEC] Ice cream ” Bunda ” cari lokasi baru

Halo mas Tedy Arif Susila…
penawaran yang bagus, kebetulan saya punya warung di jl .Akses UI no. 1 , kelapa dua Depok…di sana memang belum ada ice cream…namun ada kampus dan sekolah banyak…mungkin bisa disurvey untuk lokasi baru ice cream Bunda…untuk informasi lebih lanjut silahkana hubungi 98831399…tks.
Salam Sukses Mulia,
Andi
On 4/22/08, Teddy wrote: > > Dear Sahabat Profecers, > > Alhamdulillah, semenjak dari bulan Maret kemarin saya memulai usaha Soft > Ice cream *” Bunda ” *di Alfa Supermarket Pasar Minggu dan sampai hari ini > ternyata respon pembeli masih sangat baik. Sedikit promosi, Soft Ice cream > *” Bunda “* memberikan harga yang terjangkau, varian menu yang beragam dan > pilihan rasa yang unik (Vanila, Capucino, Coklat, Duren s/d Kacang Hijau > (segera)). > > Pada kesempatan ini, saya mencoba mengajukan kerjasama apabila ada sahabat > profecers yang memiliki kios makanan atau jajanan di lingkungan sekolah dan > kampus. kiranya dapat saya sewa sebagian kecil ruangan tsb untuk stand soft > Ice Cream *” Bunda “* . (butuh space sekitar 2 x 1 M) > > Mudah-mudahan ajakan ini berkenan dan berharap usaha ice cream ini juga > dapat menjadi daya tarik untuk membeli produk anda. > > Pls info via Japri. Matursuwun. > > Salam, > Tedy Arief Susila > > >

Comments

Investasi Dari Sekarang Yuk!

Comments

reksadana syariah yang diproteksi oleh asuransi

Ada reksadana syariah yang diproteksi oleh asuransi kesehatan,misalnya ditengah jalan kita mendadak sakit kritis.reksadana syariah tersebut akan mengisi tabungan kita sampai umur 65th,meskipun sembuh. contoh : kita menabung reksadana Rp.400.000/bln.dibulan ke-4,kita mendadak terkena sakit kritis,perusahaan kasih kita Rp.30jt untuk biaya pengobatan,sementara perusahan reksadana mengisi tabungan reksadana syariah kita,Rp.400.000/bln + nilai return sampai usia kita 65tn. ingin mengetahui kirim e-mail ke alwna_arfi@yahoo.com or 08129531142.
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

Comments

Partner Bisnis untuk menjual Investasi berbasis SYARIAH

Dicari Partner Bisnis untuk menjual investasi berbasis SYARIAH. Wakalah bil Ujrah (bagi hasil) 3% - 42%. Hubungi Taufan: 0859 599 77023

Comments

Tentang Trading Forex

Dear rekan’s Ada yang pernah nyobain invesasi forex nggak ya.. Seperti link ini.. www.indo-investor.com?ref=s0810 Boleh dong share pengalamannya tentang forex trading.. Aya

Comments

Menabung = Uang Menganggur?

MENABUNG = UANG MENGANGGUR?
oleh: Ahmad Gozali
( www.perencanakeuangan.com)

Dikutip dari Republika, 13 April 2008
Assalamualaikum Wr Wb
Pak Gozali, Saya hendak berkonsultasi mengenai masalah keuangan yang ada di keluarga saya. Saya dan suami telah berumah tangga hampir setengah tahun lamanya. Selama ini tidak ada kendala yang berarti dalam kehidupan rumah tangga kami. Namun akhir-akhir ini, kerap timbul perselisihan mengenai masalah keuangan.
Saat ini, saya sedang mengandung lima bulan dan ingin menabung untuk biaya kelahiran anak kami. Tapi, suami saya berpendapat, uang yang tidak digunakan atau berhenti itu tidak baik menurut hukum Islam. Apakah hal ini benar adanya?
Dengan gaji saya Rp 1 juta dan suami Rp 1,2 juta sebulan, apakah masuk akal jika suami yang nota bene bukan tipe orang yang suka menabung, memegang kendali keuangan keluarga? Bagaimana menurut hukum Islam, jika seorang istri bekerja dan gajinya digunakan untuk keperluan rumah tangga (namun sang suami kurang berkenan jika istri bekerja)?
Selain hal-hal tersebut di atas, saya sedang ingin mengambil kredit tanah dengan uang muka Rp 2,5 juta dan cicilan Rp 275 ribu per bulan selama lima tahun. Namun, suami saya tidak setuju karena dia ingin mempunyai bisnis sampingan. Untuk diketahui, saat ini kami masih menumpang di rumah orangtua saya.
Mohon saran dari Bapak terkait dengan permasalahan yang saya hadapi. Terima kasih.
Rara
Jawaban:
Waalaikumussalam Wr Wb
Bu Rara, Sebagai ‘pengantin baru’ memang wajar saja kalau ada pemahaman yang belum sejalan. Selama perbedaannya masih dalam lingkup strategi atau teknis dalam mengatur keuangan, bukan masalah prinsip. Saya rasa bisa diselesaikan dengan baik.
Memang benar, Islam menghendaki agar setiap harta diproduktifkan dan tidak menganggur. Hal ini bisa terlihat dari hukum zakat di mana harta yang tidak produktif dikenakan zakat lebih besar daripada harta yang produktif. Infaq dan nafkah sendiri asal katanya adalah ’saluran’ seperti halnya saluran air. Ini juga mengandung makna bahwa uang harus dialirkan dan tidak dibiarkan menganggur saja.
Tapi ini bukan berarti bahwa kita tidak boleh menabung, karena Islam sendiri mengajarkan agar kita bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan. Apalagi masa depan yang sudah pasti seperti akan segera lahirnya anak Anda berdua. Saya lebih sarankan agar Anda berdua mulai menyiapkan dana untuk persiapan kelahiran, juga pendidikannya kelak.
Menabung bukan berarti membuat uang menjadi menganggur, karena uang yang ditempatkan di bank sebetulnya diputar oleh bank berupa kredit atau pembiayaan bagi para pengusaha. Yang membuat uang menjadi menganggur adalah kalau hanya disimpan saja di bawah bantal. Tidak dibelanjakan, dan tidak dimanfaatkan. Ini yang harus dihindari. Pada dasarnya, suami berkewajiban mencari nafkah untuk keluarganya sedangkan istri tidak memiliki kewajiban. Adapun jika istri bekerja di luar rumah, maka itu harus atas izin suaminya. Dan jika istri mau membantu keuangan keluarga, maka hal itu terhitung sebagai sedekah baginya.
Di sisi lain, Islam menghargai sekali hak perempuan atas hartanya. Harta perempuan yang dibawanya sebelum menikah atau warisan dari orangtuanya, adalah hak mutlak bagi istri untuk mengaturnya. Bahkan suaminya sendiri pun tidak berhak atas harta tersebut kecuali jika istrinya ikhlas. Begitu juga dengan penghasilan istri, pada dasarnya memang menjadi hak sepenuhnya bagi istri untuk mengelolanya. Jika istri dengan ikhlas membantu keuangan keluarga, maka hal itu akan dihitung sebagai sedekah. Namun, karena istri bekerja di luar rumah harus atas izin suami, maka penghasilan ini wajar saja jika digunakan bersama untuk kepentingan keluarga. Karena kalau kedua belah pihak saling berkeras, istri tidak mau memberikan penghasilannya kepada suami, maka suami juga punya hak melarang sang istri keluar rumah untuk bekerja.
Dari sudut pandang pengelolaan keuangan, suami istri perlu duduk bersama dan membicarakan hal ini agar tercapai kesepakatan yang terbaik bagi kedua belah pihak. Ini bukan masalah benar atau salah, bukan masalah siapa yang penghasilannya lebih besar, namun lebih kepada efektivitas dalam mengelola uang. Jika dirasa bahwa suami kurang bisa menabung dalam arti boros, maka bisa saja dibicarakan agar Anda berperan lebih besar untuk mengelola keuangan agar keluarga bisa memiliki tabungan. Atau bisa saja Anda menabung terlebih dahulu dari gaji Anda sebelum ‘disetor’ kepada suami. Sekali lagi ini bukan masalah benar atau salah, tapi mencari cara yang paling efektif untuk dilakukan.
Memang biasanya seorang istri akan lebih bersikap konservatif dan ingin mencari aman. Kemapanan seringkali diutamakan oleh seorang istri. Itulah yang mendasari kenapa Anda ingin mencicil tanah. Sedangkan suami memiliki sikap yang agresif. Dalam pandangannya jika uang tersebut bisa digunakan untuk usaha sampingan, maka akan menghasilkan lebih besar sehingga bisa lebih cepat lagi membeli rumah. Tidak perlu beli (dengan cara mencicil) tanah dulu, lalu kemudian membangun rumah yang mungkin akan terlalu lama.
Untuk mengatasinya, coba Anda bahas dan sama-sama hitung berdua. Strategi Anda adalah membeli tanah dengan cara mencicil, lalu membangun rumah dengan cara menabung. Hal ini bisa dihitung makan waktu berapa lama sampai tujuan punya rumah sendiri itu tercapai. Lalu jika menggunakan strategi suami, uangnya digunakan untuk usaha sampingan, perlu jelas apa usahanya, dan bagaimana hitung-hitungannya sehingga hasil usaha itu bisa dijadikan sebagai cicilan untuk langsung beli rumah kredit. Sekali lagi, ini bukan masalah benar atau salah, ini hanya strategi mana yang kira-kira lebih efektif bagi Anda berdua.
Sebagai jalan tengah, sebetulnya bisa saja Anda menabung terlebih dahulu lalu kemudian sisanya disetorkan kepada suami untuk dikelola. Sehingga Anda tetap punya tabungan untuk persiapan menghadapi proses kelahiran. Untuk bisnis sampingan dan suami yang kurang berkenan Anda bekerja, bisa diambil jalan tengah di mana Anda berhenti kerja dan menjalankan bisnis sampingan tersebut. Dengan begitu, Anda juga bisa tetap memegang kendali. Lalu hasil keuntungan bisnisnya bisa Anda belikan rumah secara kredit.
Salam. Ahmad Gozali Perencana Keuangan

- MOHON DI FORWARD -
_____________________________________________________ Kunjungi situs kami di www.perencanakeuangan.com Ingin mendapatkan info dan artikel rutin di email Anda tentang perencanaan keuangan? Dapatkan newsletter kami. Kirimkan email kosong Anda ke alamat SSR-InfodanArtikel-subscribe@yahoogroups.com Ingin bertemu dan berkenalan dengan rekan-rekan lain yang memiliki minat yang sama terhadap topik tentang perencanaan keuangan? Join klub kami. Kirimkan email kosong Anda ke alamat SSR-Klub-subscribe@yahoogroups.com Ingin bertemu dan berkenalan dengan rekan-rekan lain yang memiliki minat yang sama terhadap topik tentang perencanaan keuangan syariah? Join milis kami. Kirimkan email kosong Anda ke alamat SSR-Syariah-subscribe@yahoogroups.com

Comments

” Apa Pantas Berharap Surga? “

Selamat Pagi..!!! Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin…

Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: “Kalau tidak terlambat” atau “Asal nggak bangun kesiangan”. Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?
Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.
Baca Qur’an sesempatnya, itu pun tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?
Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.
Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?
Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata milik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan semata teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.
Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?
Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?
Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?
Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang sejak kecil tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.
Astaghfirullaah …..

Sumber : Eramulsim.com

Baca juga artikel motivasi lainnya hanya di :

http://www.beraniegagal.com

Salam Sukses,
M. Rian Rahardi

# BeraniBisnis.Com
# KeuanganPribadi.Com
P Please consider the environment before printing this email

This email and any attachments are confidential and may also be privileged. If you are not the addressee, do not disclose, copy, circulate or in any other way use or rely on the information contained in this email or any attachments. If received in error, notify the sender immediately and delete this email and any attachments from your system. Emails cannot be guaranteed to be secure or error free as the message and any attachments could be intercepted, corrupted, lost, delayed, incomplete or amended. Standard Chartered PLC and its subsidiaries do not accept liability for damage caused by this email or any attachments and may monitor email traffic.

Standard Chartered PLC is incorporated in England with limited liability under company number 966425 and has its registered office at 1 Aldermanbury Square, London, EC2V 7SB.

Standard Chartered Bank (”SCB”) is incorporated in England with limited liability by Royal Charter 1853, under reference ZC18. The Principal Office of SCB is situated in England at 1 Aldermanbury Square, London EC2V 7SB. In the United Kingdom, SCB is authorised and regulated by the Financial Services Authority under FSA register number 114276.

If you are receiving this email from SCB outside the UK, please click http://www.standardchartered.com/global/email_disclaimer.html to refer to the information on other jurisdictions.

Comments

rumah ataw tanah

selamat pagi rekan-rekan semua.. saya dwipa, pria 22 tahun dari bali ada yang ingin saya tanyakan” 1. lebih baik mencari rumah baru atau second? 2. bagaimana cara mengetahui kondisi suatu rumah itu cocok dengan konstuksi untuk rumah baru dan apa dasar penilaian untuk rumah second (saya awam untuk hal ini) 3. untuk posisi rumah/tanah lebih baik cari yang dengan syarat seperti apa?(saya dengar yang bagus menghadap ke timur atau ke utara) 4. jika saya mengambil tanah dan langsung digunakan untuk jaminan apakah jika ke depan (misal 3th) saya ingin membangun, apakah bisa mendapat biaya dari bank dengan jaminan sertifikat tanah yang sudah ada pada bank dengan menyampaikan rincian rencana pembangunan? 5. bagaimana menyiasati untuk DP?
kondisi saya saat ini
1. penghasilan 5jt/bulan baru dimulai sejak april 2008 sebelumnya 2,5jt/bulan 2. menanggung biaya kuliah adik dan biaya hidup keluarga(orang tua dan paman yang PHK diusia senja setelah bom bali) 3. saya belum menikah 4. rencana kuliah tahun ini. 5. kuliah dengan kedinasan akan mengancam penghasilan saya menjadi 2.2jt/bulan namun baik untuk karir kedepan (saya sudah daftar ikut tesnya dan menunggu pengumuman lulus/tidak & pendidikan dimulai januari 2009), jika diluar kedinasan penghasilan saya tetap sejumlah tersebut diatas. 6. kami sekeluarga saat ini mengontrak dengan masa kontrakan tinggal 3th 9 bulan. 7. pengeluaran rata2 tiap bulan sekitar 2,2 - 2,5juta/bulan (incl. uang dapur, transport, kuliah, listrik, upacara, pulsa, mck, service kendaraan, uang saku saya dan adik untuk makan selama diluar rumah, dan pengeluaran tak terduga) sehingga tidak pernah punya tabungan, kalaupun ada uang lebih sudah digunakan untuk menutupi/ melunasi hutang. 8. jam kerja 07.30 - 17.00 (sekretaris) dan sering pulang s.d. jam 19.00 karena menunggu atasan pulang 9. tidak ada penghasilan tambahan (baik dari lembur, menunggu atasan ataupun kepanitiaan acara) 10. saya sudah semasksimal mungkin mengurangi biaya yang tak diharapkan 11. adik saya lulus tahun ini namun masih belum tahu apakah dapat pekerjaan atau tida, tapi saya optimis saja karena dia cukup akrab dengan beberapa pihak hotel di tempat dia training/ mengikuti daily work (pariwisata) 12. untuk rumah di denpasar dan pinggiran sekarang dari pengembang rata2 275juta dengan tipe 45/100 3 kamar (saya cari tipe ini karena yang tinggal banyak orang) 13. tanah di denpasar sudah banyak dikembangkan untuk dijadikan rumah oleh developer, mencari tanah saat ini saya alami kendala karena banyak dijual tanah tapi hanya mobil kecil bisa masuk, menurut bapak saya kurang baik karena penilaian bank akan kurang… 14. saya mulai menabung mulai bulan mei ini. terima kasih atas petunjuk yang diberikan..
masukan dan saran sangat saya harapkan… terima kasih banyak..
sangputu.diandwipayana@pajak.go.id

Comments

kredit syariah & konvensional

ear rekan3 Saya ingin menanyakan masalah denda keterlambatan bayar pada kredit syariah. Bagaimana cara perhitungannya ya? Apa bedanya dengan kredit konvensional.
SAlam Dhany

Comments

« Previous entries · Next entries »